{"id":8940,"date":"2025-12-12T12:54:00","date_gmt":"2025-12-12T05:54:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.article33.or.id\/?p=8940"},"modified":"2026-08-13T12:11:48","modified_gmt":"2026-08-13T05:11:48","slug":"a33-siaran-pers-lokakarya-benefit-sharing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/2025\/12\/a33-siaran-pers-lokakarya-benefit-sharing\/","title":{"rendered":"[Siaran Pers] Mendorong optimalisasi ekonomi dari mineral kritis di Indonesia: lokakarya nasional untuk model benefit sharing berkelanjutan bagi daerah kaya SDA"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8980\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.47.56-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8980\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8983\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.47.57-1-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8983\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8982\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.47.57-2-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8982\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8981\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.47.57-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8981\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8984\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.47.58-1024x684.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8984\"\/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-04804f04\">Jakarta, 9 Desember 2025 \u2013 Lokakarya Nasional bertajuk &#8220;Optimalisasi Manfaat Ekonomi dari Pengelolaan Mineral Kritis di Indonesia dan Pengembangan Model <em>Benefit Sharing<\/em> di Tingkat Sub-Nasional&#8221; telah berhasil diselenggarakan pada 8-9 Desember 2025 di Artotel Gelora Senayan, Jakarta. Acara yang dihadiri lebih dari 60 peserta dari 31 lembaga ini mendiskusikan disparitas signifikan dalam pembagian manfaat dari industri nikel di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-6551f85b\">Salah satu <em>highlight <\/em>utama dari forum adalah belum adilnya distribusi manfaat baik secara fiskal, sosial dan lingkungan bagi daerah penghasil nikel. Dimas Muhammad dari Gugus Tugas Tim Percepatan Hilirisasi Industri Nikel Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM) Indonesia menyampaikan: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Penerimaan hasil hilirisasi belum adil bagi daerah, karena daerah hanya mendapatkan seperenam pendapatan negara dari hilirisasi.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Konteks Strategis Indonesia dalam Industri Nikel Global<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-571ca945\">Indonesia memiliki posisi strategis yang unik dalam rantai pasok global industri nikel, sebagaimana dicatat oleh Thibault Michel dalam kajian Ifri tentang prospek <em>boom<\/em> nikel Indonesia (Michel, 2024) dimana Indonesia menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia dan menyumbang sekitar setengah dari produksi tambang nikel global dalam beberapa tahun terakhir. Potensi ekonomi dari nikel ini mendorong ekspansi pesat basis industri pengolahan dan pemurnian, termasuk pembangunan puluhan smelter baru serta kawasan industri terintegrasi seperti Morowali dan Weda Bay yang menarik investasi puluhan miliar dolar AS (ASEAN Briefing, 2025). Arus modal tersebut didominasi oleh penanaman modal asing\u2014khususnya perusahaan dan konsorsium asal Tiongkok\u2014yang kini mengendalikan lebih dari tiga perempat kapasitas pemurnian nikel Indonesia dan menjadikan negara ini salah satu simpul terpenting dalam rantai pasok nikel global untuk baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik (ASEAN Briefing, 2025).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-adaf547a\">Meskipun strategi hilirisasi telah memberikan dampak ekonomi positif nyata, terutama di daerah-daerah penghasil seperti Morowali, Morowali Utara, Konawe Utara dan Halmahera Tengah dengan peningkatan upah tenaga kerja lokal yang melampaui rata-rata nasional, ketidakadilan dalam pembagian hasil tetap menjadi tantangan fundamental yang harus diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mekanisme <em>Sovereign Wealth Fund <\/em>(SWF) sebagai salah satu solusi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-ef9514bc\">Sebagai salah satu upaya mengurangi disparitas ini, forum nasional mengusulkan penguatan mekanisme <em>Sovereign Wealth Fund<\/em> (SWF) sebagai instrumen strategis untuk redistribusi manfaat yang berkelanjutan dan berkeadilan di tingkat daerah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membentuk Dana Abadi Daerah untuk Sumber Daya Alam (DAD SDA).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-dacb7b0d\">Dewa Putu Ekayana, Analis Kebijakan Senior dari Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan menekankan pentingnya kelembagaan yang kuat dan transparan untuk membentuk SWF. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kelembagaan itu penting, meskipun nanti sebagian besar dananya dari penyisihan atau porsi dari kekayaan alam dari pemerintah daerah. SWF itu harus <em>generating income<\/em> dan <em>generating profit,<\/em> kalau nggak, dia nggak <em>sustain<\/em>.&#8221; ucap Dewa.&nbsp;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prinsip-prinsip SWF yang disepakati dalam forum mencakup:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kelembagaan Transparan dan Akuntabel \u2013 Tata kelola yang professional dengan standar <em>governance<\/em> internasional<\/li>\n\n\n\n<li>Independensi Finansial \u2013 SWF dikelola terpisah dari siklus APBN\/APBD untuk menghindari penggunaan dana untuk tujuan-tujuan politis jangka pendek<\/li>\n\n\n\n<li><em>Profit-Generating Mechanism<\/em> \u2013 Manajemen profesional yang mampu menghasilkan income dan profit untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang<\/li>\n\n\n\n<li>Diversifikasi Ekonomi \u2013 Investasi dari SWF harus mendukung diversifikasi ekonomi daerah penghasil, tidak sekadar konsumsi atau infrastruktur sesaat<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pembelajaran dari Pengalaman Daerah dan Praktisi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8987\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.49-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8987\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8988\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.50-1-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8988\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8986\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.50-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8986\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8992\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.51-1024x678.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8992\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8989\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.53-1-1024x684.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8989\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"8990\" src=\"https:\/\/www.article33.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-11-at-22.51.53-1024x684.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8990\"\/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Forum lokakarya nasional melibatkan partisipasi aktif dari berbagai stakeholder:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pemerintah Pusat: Gugus Tugas Tim Percepatan Hilirisasi Industri Nikel KemenESDM, Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu, dan Kementerian Dalam Negeri.<\/li>\n\n\n\n<li>Institusi Riset dan Think Tank: INDEF, PolGov UGM, A33 Indonesia, CORE Indonesia, Dala Institute, Migunani, LPEM UI,&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>NGO lokal\/daerah: Perwakilan dari daerah penghasil nikel (Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara)<\/li>\n\n\n\n<li>Praktisi Industri dan Akademisi: Ahli pertambangan, ekonom, akademisi, universitas dan peneliti dari berbagai lembaga terkemuka<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-ab0e1847\">Dari kalangan akademisi dan praktisi, muncul suara penting tentang kompleksitas implementasi. Akademisi dari Universitas Khairun (Sulawesi Tenggara) dan Universitas Halu Oleo (Maluku Utara) menekankan perlunya transparansi data produksi dan cadangan nikel agar perencanaan <em>benefit sharing<\/em> berbasis data yang valid. Sementara itu, praktisi industri mengingatkan bahwa proses hilirisasi sangat kompleks dan memerlukan koordinasi multi-sektor\u2014tidak dapat berdiri sendiri tanpa melibatkan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja dan <em>supplier<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tantangan yang Masih Harus Diselesaikan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun momentum positif tercipta dalam forum ini, beberapa tantangan substansial masih perlu penyelesaian:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Keterbatasan Kewenangan Daerah \u2013 Sebagian besar kewenangan tata kelola industri nikel masih tersentralisasi di tingkat pusat, membatasi ruang daerah untuk mengoptimalkan manfaat lokal<\/li>\n\n\n\n<li>Reklamasi dan Mitigasi Lingkungan \u2013 Belum ada kepatuhan penuh dari perusahaan tambang terhadap kewajiban reklamasi pasca-tambang.<\/li>\n\n\n\n<li>Transparansi Data Produksi \u2013 Data produksi nikel dari berbagai sumber masih inkonsisten, menyulitkan perencanaan kebijakan yang berbasis data.<\/li>\n\n\n\n<li>Keadilan Redistribusi \u2013 Mekanisme <em>benefit sharing<\/em> hingga saat ini masih sulit diakses oleh masyarakat lokal; banyak program yang hanya terlihat pada \u201cdokumen-dokumen\u201d saja atau disebut sebagai &#8220;pepesan kosong&#8221;<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah Konkret dan Timeline Implementasi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peserta lokakarya merumuskan serangkaian langkah konkret dengan <em>timeline<\/em> yang jelas:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">A. Pengembangan Model <em>Benefit Sharing<\/em> di 4 Wilayah Pilot<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Forum fokus pada desain model <em>benefit sharing <\/em>di empat wilayah pilot:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Morowali, Sulawesi Tengah<\/li>\n\n\n\n<li>Morowali Utara, Sulawesi Tengah<\/li>\n\n\n\n<li>Konawe Utara, Sulawesi Tenggara<\/li>\n\n\n\n<li>Halmahera Tengah, Maluku Utara<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap model mengintegrasikan tiga stream utama <em>benefit sharing:<\/em><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Diskresi Fiskal dan<em> Direct Finance<\/em>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Optimalisasi Dana Bagi Hasil (DBH)<\/li>\n\n\n\n<li><em>Earmarking<\/em> untuk pajak perusahaan dan pajak badan<\/li>\n\n\n\n<li>Penetapan <em>Sovereign Wealth Fund<\/em> (SWF) di tingkat daerah<\/li>\n\n\n\n<li><em>Timeline: Quick wins <\/em>dapat diidentifikasi dalam 6-12 bulan ke depan<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li>Konten Lokal dan Rantai Pasok\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Strategi penempatan tenaga kerja lokal dengan<em> skill pipeline<\/em> yang jelas<\/li>\n\n\n\n<li>Optimalisasi <em>supply<\/em> barang dan jasa lokal<\/li>\n\n\n\n<li>Perbaikan infrastruktur pendukung<\/li>\n\n\n\n<li>Inovasi dalam proses produksi (contoh: biomass untuk mengganti batu bara)<\/li>\n\n\n\n<li>Target: Identifikasi <em>quick wins <\/em>dalam 12 bulan<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><em>Company-to-Community Direct Finance<\/em>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Optimalisasi mekanisme CSR\/PPM (Program Pemberdayaan Masyarakat)<\/li>\n\n\n\n<li>Sinkronisasi dengan RPJMD dan RKPDES<\/li>\n\n\n\n<li><em>Governance<\/em> yang kredibel dan transparan untuk mencegah &#8220;pepesan kosong&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>Target: Perbaikan kualitas program pada tahun berjalan<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">B. Advokasi Kebijakan Nasional<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Peningkatan DBH untuk Daerah Hilirisasi \u2013 Usulan untuk memberi daerah porsi yang lebih adil dari pendapatan nikel, terutama daerah yang menerima dampak eksternalitas lingkungan terbesar.<\/li>\n\n\n\n<li>Transparansi dan <em>Earmarking<\/em> Pajak \u2013 Implementasi mekanisme <em>earmarking<\/em> untuk PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) badan sehingga daerah mendapat porsi lebih besar sesuai lokasi pembayar pajak.<\/li>\n\n\n\n<li>Penetapan Bea Keluar untuk Produk Setengah Jadi \u2013 Mekanisme fiskal untuk mendorong produk nikel bergerak lebih ke hilir, bukan hanya feronikel dengan nilai tambah rendah.<\/li>\n\n\n\n<li>Pungutan Skema Kemitraan \u2013 Formalisasi kemitraan perusahaan dengan masyarakat lokal sebagai instrumen<em> benefit sharing<\/em> langsung.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">C. Platform Kolaborasi dan Pembelajaran Bersama<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Forum juga menyetujui pembentukan mekanisme agregasi pengetahuan dan <em>best practice sharing <\/em>lintas lembaga untuk memperkuat advokasi kebijakan dan pembelajaran kolektif.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pesan Kunci dari Para Pemimpin Forum<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-87a9aa5a\">Alexander Irwan dari Ford Foundation, yang telah mendukung inisiatif <em>benefit sharing<\/em> selama 15 tahun, menekankan: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kita harus punya <em>champions<\/em> dan punya hubungan baik dengan pemerintah lokal maupun nasional dalam mendukung inisiatif <em>benefit sharing <\/em>dalam industri ekstraktif nikel. Kita pastinya tidak mengharapkan bencana Sumatera terulang kembali.&#8221; <\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-05cee543\">Pesan ini mengingatkan pentingnya setiap pihak untuk berkomitmen pada pembangunan yang <em>sustainable<\/em> dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-70009edc\">Imaduddin Abdullah dari INDEF, yang membahas dinamika <em>global value chains<\/em> nikel, mengingatkan tentang pentingnya diversifikasi ekonomi: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Semakin ke hilir, maka volatilitasnya semakin lebih rendah dan fiskal <em>revenue<\/em> yang bisa digunakan relatif lebih stabil. Ketika suatu negara sudah semakin ke hilir tidak lagi bergantung ada komoditas, harusnya bisa lebih memberikan perencanaan kebijakan fiskal yang relatif lebih kuat dibandingkan bergantung pada sumber daya alam.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Komitmen Bersama<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua peserta forum berkomitmen untuk:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Mewujudkan model pembagian manfaat yang berkeadilan di sektor nikel dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas<\/li>\n\n\n\n<li>Mempersempit kesenjangan ekonomi antara daerah penghasil dan pusat pertumbuhan nasional<\/li>\n\n\n\n<li>Memastikan pembangunan yang merata dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial<\/li>\n\n\n\n<li>Mengakselerasi implementasi model <em>benefit sharing<\/em> di 4 wilayah <em>pilot<\/em> dalam <em>timeline<\/em> yang jelas<\/li>\n\n\n\n<li>Membangun ekosistem penunjang yang meliputi regulasi yang tepat,<em> political wil<\/em>l dari para pemimpin, dan kapasitas teknis yang memadai<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Outlook ke Depan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-0e891a3f\">Lokakarya ini membuka momentum penting bagi upaya kolaboratif dalam mewujudkan hilirisasi nikel yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga adil, berkelanjutan, dan memberdayakan masyarakat lokal. Dengan melibatkan semua <em>stakeholder<\/em>\u2014dari pemerintah pusat dan daerah, industri, akademisi, hingga masyarakat sipil\u2014diharapkan model <em>benefit sharing<\/em> yang realistis, kontekstual, dan kredibel dapat direalisasikan di tingkat subnasional dalam waktu dekat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-5e068e9e\">Sebagaimana disampaikan dalam penutupan forum:  <mark style=\"background-color:var(--base)\" class=\"has-inline-color has-contrast-color\">&#8220;Kita punya semangat yang sama dan ada banyak peluang-peluang yang bisa kita optimalkan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah.&#8221; <\/mark>Momentum ini harus dijaga dan ditindaklanjuti dengan konkret agar <em>benefit sharing <\/em>bukan hanya menjadi slogan, tetapi menjadi kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat penghasil nikel. <\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td>Harriz Jati (Peneliti Article 33 Indonesia)<br>Email:&nbsp; harriz.jati@article33.or.id<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"gb-text gb-text-9cbcb014\"><strong>Tentang Article 33 Indonesia<br><\/strong>Article 33 Indonesia adalah lembaga riset dan advokasi kebijakan yang berfokus pada isu pembangunan berkelanjutan, tata kelola sumber daya, dan perlindungan sosial. Misi kami adalah mendorong kebijakan berbasis bukti agar terciptanya kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga negara.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 9 Desember 2025 \u2013 Lokakarya Nasional bertajuk &#8220;Optimalisasi Manfaat Ekonomi dari Pengelolaan Mineral Kritis di Indonesia dan Pengembangan Model Benefit Sharing di Tingkat Sub-Nasional&#8221; telah berhasil diselenggarakan pada 8-9 Desember 2025 di Artotel Gelora Senayan, Jakarta. Acara yang dihadiri lebih dari 60 peserta dari 31 lembaga ini mendiskusikan disparitas signifikan dalam pembagian manfaat dari &#8230; <a title=\"[Siaran Pers] Mendorong optimalisasi ekonomi dari mineral kritis di Indonesia: lokakarya nasional untuk model benefit sharing berkelanjutan bagi daerah kaya SDA\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/2025\/12\/a33-siaran-pers-lokakarya-benefit-sharing\/\" aria-label=\"Read more about [Siaran Pers] Mendorong optimalisasi ekonomi dari mineral kritis di Indonesia: lokakarya nasional untuk model benefit sharing berkelanjutan bagi daerah kaya SDA\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8980,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"iawp_total_views":3,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[99],"focus-area":[140,143],"class_list":["post-8940","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-siaran-pers","tag-benefit-sharing-mechanism","focus-area-perubahan-iklim-dan-konservasi-lingkungan","focus-area-transisi-ekonomi","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50","no-featured-image-padding"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8940","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8940"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8940\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51722,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8940\/revisions\/51722"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8940"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8940"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8940"},{"taxonomy":"focus-area","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.article33.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/focus-area?post=8940"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}