
Jakarta, 17 September 2026 — Article 33 Indonesia bersama Forum Kajian Pembangunan (FKP) menyelenggarakan FKP bertajuk “Menjembatani Kekuatan dan Kebutuhan: Kemitraan dan Pembelajaran Bersama untuk Penguatan Ekosistem Pendidikan Indonesia” pada Rabu, 16 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan perwakilan pemerintah, peneliti, satuan pendidikan, serta mitra internasional untuk membahas pentingnya kemitraan dalam memperkuat ekosistem pendidikan Indonesia.
Menghubungkan Kebutuhan dan Sumber Daya
Salsabila Kusumawardani, Peneliti Article 33 Indonesia, menjelaskan bahwa ekosistem pendidikan membutuhkan hubungan yang lebih kuat antarpihak. Berbagai sumber daya, mulai dari fasilitas, pengalaman, pengetahuan, hingga praktik baik, sebenarnya telah tersedia, tetapi belum selalu terhubung dengan sekolah yang membutuhkan.

“Tantangannya bukan hanya apakah sumber daya dan praktik baik sudah tersedia, tetapi bagaimana semuanya dapat terhubung dengan kebutuhan sekolah. Kemitraan menjadi salah satu cara untuk menjembataninya. Pemerintah daerah dengan dukungan pemerintah pusat dapat menjadi salah satu penghubungnya.” jelas Salsabila.
Menurut hasil kajian Article 33, terdapat empat area yang sejalan dengan prioritas pemerintah dan dapat diperkuat melalui kemitraan meliputi pembelajaran lintas sistem, pengembangan profesi guru, penjaminan mutu, serta transisi ke dunia kerja.
Kemitraan dari Lingkungan Sekitar Sekolah
Pada tingkat PAUD, Ema Mardiah, Kepala Sekolah KB Istiqlal, membagikan pengalaman melalui berbagai program yang membangun kemitraan dengan lingkungan sekitar sekolah. Kemitraan yang dapat dibangun dengan tetangga, komunitas, organisasi, pihak swasta, maupun orang tua peserta didik. Keberhasilan kemitraan pun tidak hanya dilihat dari kegiatan yang berlangsung, tetapi dari keberlanjutan manfaat setelah kegiatan selesai.

“Kemitraan perlu dimulai dari memetakan kemampuan yang kita miliki, kebutuhan yang perlu dijawab, dan apa yang dapat kita berikan kepada mitra. Pada jenjang PAUD, lingkungan sekitar dan orang tua merupakan bagian penting dari proses belajar anak. Melalui kemitraan pembelajaran dapat menjadi lebih kontekstual dan memberi pengalaman yang utuh bagi anak.” Kata Ema.
Mendorong Kolaborasi antara SPK dan Sekolah Nasional Terintegrasi
Dari perspektif pemerintah pusat, Nandana Bhaswara, Plt. Direktur Sekolah Terintegrasi, menjelaskan saat ini terdapat sekitar 652 SPK yang tersebar di Indonesia. Jumlah tersebut masih <1% dibandingkan keseluruhan satuan pendidikan. Di sisi lain, capaian mutu pendidikan masih belum merata. Dari 7.288 kecamatan, baru 263 kecamatan yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian mutu baik berdasarkan hasil Asesmen Nasional dan akreditasi. Artinya, baru kurang dari 4 persen kecamatan yang memenuhi kategori tersebut, dengan konsentrasi terbesar berada di Pulau Jawa.

“Jangan sampai anak-anak yang lahir di suatu daerah, nasib pendidikannya tidak berlangsung baik. Pemerintah sedang mengembangkan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), yang dikelola dengan target 2029 ada di setiap Kabupaten dan Kota. SNT diharapkan menjadi pusat pembelajaran dan rujukan bagi sekolah-sekolah di sekitarnya, harapannya ke depan SPK bisa bekerja sama dengan SNT. Kemitraan dapat menjadi pengungkit terhadap proses untuk mencapai mutu yang diharapkan”, jelas Nandana.
Dari Pertukaran Pelajar menjadi Pembelajaran Bersama
Samuel D. Effendy, Kepala Sekolah SMP Bina Bangsa School Pantai Indah Kapuk, membagikan pengalaman membangun kemitraan dengan sekolah internasional dari Singapura, melalui program kolaborasi antarsiswa, guru, dan pimpinan sekolah.

“Pertukaran pelajar dapat dikembangkan menjadi proses pembelajaran bersama. Siswa dari dua sekolah dapat ditempatkan dalam kelompok yang sama untuk saling belajar dan bertukar budaya, sementara guru dan pimpinan sekolah juga memperoleh kesempatan untuk memahami kekuatan serta kebutuhan masing-masing”, kata Samuel.
Memperluas Manfaat Kemitraan Internasional
Sementara itu, Aisha Sabila dari British Embassy Jakarta menjelaskan bahwa saat ini, kerja sama Inggris dan Indonesia berlangsung di berbagai jenjang pendidikan, termasuk melalui dukungan terhadap penguatan sistem pendidikan tinggi, sekolah yang menggunakan kurikulum Inggris, serta kerja sama dengan sekolah lokal. Tidak hanya itu, dukungan dilakukan melalui beasiswa, dukungan pembiayaan, serta pengimbasan praktik baik dan elemen kurikulum.

“Kemitraan internasional tidak hanya tentang memberikan dukungan, tetapi juga bekerja bersama mitra untuk memperkuat sistem, berbagi pengetahuan, dan memperkuat kepemimpinan lokal. Kami ingin memastikan bahwa manfaat kemitraan dapat dirasakan oleh sekolah reguler dan masyarakat yang lebih luas”, tutup Aisha.
Kemitraan sebagai Bagian dari Ekosistem Pendidikan
Diskusi menunjukkan bahwa kemitraan dapat dibangun dalam berbagai bentuk dan skala, mulai dari kerja sama sekolah dengan orang tua dan lingkungan sekitar, kolaborasi antarsekolah, hingga kemitraan antara pemerintah dan lembaga internasional.
Kemitraan bukan pengganti tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan fundamental pendidikan. Namun, kemitraan dapat membantu menghubungkan sumber daya, pengetahuan, dan praktik baik yang telah tersedia agar menjangkau lebih banyak pihak.
Dengan pemetaan kebutuhan yang jelas, kontribusi yang relevan, serta komitmen untuk saling belajar, kemitraan diharapkan tidak berhenti sebagai satu kegiatan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Narahubung:
Tim Komunikasi dan Manajemen Pengetahuan Article 33 Indonesia
+62 821-2375-9221
[email protected]
